Wednesday, 18 February 2009

Decoding "L"


Seorang pesohor wanita terkemuka baru saja keluar dari ruang sidang Pengadilan Agama. Hari itu adalah saat pembacaaan putusan atas gugatan cerainya. Para wartawan yang menunggu sedari tadi bergegas mengerubunginya berharap mendapat berita baru. Hal itu dapat dimengerti karena jauh sebelum putusan cerai dibacakan hakim, sang selebritis dan mantan suaminya rajin membeberkan aib masing-masing pasangannya kepada publik melalui media massa. Sungguh disayangkan karena pasangan itu mempunyai anak-anak yang butuh bimbingan. "Tetapi mau bagaimana lagi? Tidak ada lagi cinta diantara kami berdua", demikian katanya sambil mencoba keluar dari kepungan kerumunan. Jadi, cinta itu bisa hilang?


Seorang gadis duduk dengan kebanggaan seorang putri di sofa empuk warna merah tedas dalam suatu acara bincang bintang. Sebenarnya bukan dia sorotan utama dari semua mata di studio dan mata-mata bersemangat di depan layar televisi. Bintang cemerlang di acara itu adalah kekasihnya, seorang penyanyi muda tampan yang baru tenar. Sang bintang mengulas sipu ketika pemandu acara bertanya kepada kekasihnya tentang apa yang telah mengaitkan kebersamaan mereka hingga melampaui usia empat tahun. Yang terkasih pun menjawab dengan binar mata, "aku mencintainya karena dia baik, sabar, dan penuh pengertian". "Jawaban semua orang", pemandu acara membatin. Tetapi, terlepas dari itu, apakah cinta itu benar punya syarat?

Seorang suami duduk di ruang interogasi kantor polisi. Kumisnya tegang, dadanya penuh kucuran peluh, seorang petugas memaksanya membuka baju. Bunyi ketukan acak dari opsir yang mengetik laporan semakin membuatnya kecut. Sebuah jentikan di dekat telinganya membawa pikirannya yang sedang menerawang kembali ke ruang sempit dan gerah itu. Polisi yang menjentikkan jari mengulang pertanyaannya. Opsir itu ingin tahu mengapa ia pagi tadi menyabetkan parang ke tubuh istrinya hingga sang istri tewas kehabisan darah. Ingatan terakhir tentang istrinya adalah ketika melihatnya bercakap akrab dengan tetangga pria yang rumahnya berbatasan pagar tadi pagi. Sadar tidak bisa lari lagi, ia menjawab, "saya terlalu mencintainya". Dan sang suami sesenggukan. Jadi, cinta itu adalah bentukan keinginan menguasai?

Seorang wanita bertubuh gempal berusia kepala tiga sedang diwawancarai oleh seorang sutradara yang ingin membuat karya dokumentasi tentang kehidupannya. Kisah hidupnya merupakan cerita menarik karena di siang hari ia menantang terik matahari, bekerja memecah batu untuk dijual sebagai bahan bangunan. Sedangkan di malam hari ia memerahkan bibir, 
berpupur, memakai baju terbaiknya, kemudian pergi ke kuburan cina menjajakan tubuhnya. Suami yang gemar main kartu dan menenggak ciu serta lima anak masih kecil dan bersekolah membuatnya tersudut dengan sangat sedikit pilihan. "Cinta saya adalah anak-anak saya", demikian katanya. Namun, ia tidak getir ketika menceritakan hidupnya. Jadi, cinta adalah 
pengorbanan? (Tolong koreksi saya bila saya salah).

Seorang pria duduk menghadap meja makan, menyantap sarapannya lambat-lambat. Ia tampak tidak berselera. Istrinya mempersiapkan bekal untuk makan siang, karena tiap hari Minggu sang suami harus kerja setengah hari sedangkan kantin di kantor selalu tutup pada hari itu. Wanita cantik itu tidak tahu bahwa suaminya berahasia. Kemarin sang suami diberitahu bahwa hidupnya tidak akan lama; pria itu mengidap penyakit langka dan mematikan. Wanita itu juga tidak tahu bahwa kini sang suami di balik punggungnya sudah cukup lama memperhatikan dirinya. Dalam diam, sang suami lekat-lekat mengamati gerak-gerik istrinya mulai dari mengoleskan mentega ke roti, kemudian menaburkan butiran kecil coklat di atasnya, hingga memasukkan bekal siap dikonsumsi itu ke dalam kotak makanan. Saya tidak tahu apa yang tertera di pikiran pria itu, tetapi yang pasti ia memandang sang istri dengan tatapan berbeda. 

Sekarang coba ketik "love" di mesin pencari Google, maka akan muncul 1.910.000.000 entry hasil penelusuran. Hal ini bisa berarti dua hal: pertama, dunia ini damai karena ada luapan cinta pada diri setiap orang; atau kedua, dunia ini penuh dengan pemimpi siang bolong. Namun, sesungguhnya hal itu bisa saja tidak berarti apa-apa. Mungkin "cinta" hanya konsep samar yang bersumber dari cerita sebuah novel, kisah sebuah film, atau lirik sebuah lagu yang bercampur dengan pengalaman pribadi, pengalaman orang sekitar, juga angan-angan. Dan semua itu menjalar dari satu orang ke orang lainnya. Lihat betapa cepat gairah ini menular. Sebuah "virus cinta" (meminjam istilah dari Slank).

Cinta tidak cukup diterjemahkan dalam kata-kata. Jika dikemukakan dalam kata-kata, yang tertangkap kemudian hanyalah sebatas yang mungkin diungkapkan. Kata-kata hanya produk yang menyederhanakan kekacauan; yang meringkus keluasan. Kata-kata mungkin hanyalah simbol, seperti sebuah gambar hati berwarna merah, atau sebuah kado di hari kasih-sayang, 
atau sebuah kecupan di kening.

Cinta itu dialami. Oleh karena itu, kebudayaan mengenal tomber amoureux (dalam Bahasa Perancis) atau fall in love (dalam Bahasa Inggris) atau jatuh cinta. Seseorang harus jatuh ke dalam cinta untuk memahaminya. Orang itu harus benar-benar mencebur hingga ia dapat mengukur kedalaman dan mencermati tepiannya. Ini bukan sesuatu yang diajarkan di 
sekolah. Bahkan seorang peramal dengan bola kristal tidak dapat membantu. 

Lalu bagaimana dengan cinta yang membunuh? Apakah The Everly Brothers dan Nazareth bersungguh-sunguh sewaktu mereka mengatakan "love hurts"? Seorang professor cinta berkata bahwa cinta bisa menyakitkan bila orang yang kita cintai tidak membalas cinta kita, atau kadar cintanya tidak sebesar cinta kita, atau ia kehilangan cintanya kepada kita di tengah jalan. Sang professor kemudian berkata bahwa cinta seharusnya adalah tentang memberi tanpa mengharap kembali; bila orang yang kita cinta ternyata tidak mencintai kita, itu adalah masalah dia. Dan jangan jadikan masalahnya menjadi masalah kita. Namun coba katakan itu kepada orang yang patah hati; yang menggenggam hati yang berlumuran darah di kedua tangannya.

Namun ada banyak cara bagi cinta untuk menemukan kita kembali. Seberapapun menyakitkannya cinta, kita akan tetap kembali lari ke dalam pelukannya. Mungkin memang diperlukan sedikit goncangan jiwa untuk tetap membuat kita waras, secercah rasa kematian untuk menjaga kita tetap hidup. Mungkin cinta adalah gatal yang enak digaruk?

Selalu ada bayangan menyenangkan tentang cinta. Namun saat ini saya tidak membayangkan tentang makan malam romantis dalam temaram lilin. Saat ini saya sedang membayangkan duduk bersisian dengan dia di halaman belakang rumah di suatu sore seperti hari-hari biasanya. Dan setelah lama larut dalam percakapan akrab, saya dan dia kemudian terdiam, memandang kepada entah apa, sibuk dengan pikiran masing-masing, tetapi berbagi kehadiran, berbagi keberadaan.

9 comments:

Silly said...

Gilaaa, ini artikel keren banget!!!

Ah, terima kasih sudah terdampar di blog(site?) saya, dan meninggalkan jejak yang menghantarkan saya ke posting ini. Gosh, this is so sweet.

Benar, cinta seharusnya tidak mengharapkan imbalan, karena ketika kita mencintai sambil mengharapkan orang lain do the same to us... Maka pada satu ketika kita akan terluka...

Ketika cinta berada dipersimpangan jalan, yang terpikirkan selalu hanyalah, apakah dia masih mencintai aku?

Kita tidak sadar bahwa ketika kita mencintai, seluruh energy negatif dalam diri kita menguap pergi, berganti dengan rasa bahagia dan perasaan nyaman, dan damai dalam diri kita.

So, ketika kita mencintai... kita tidak melakukannya untuk orang lain... tapi kita melakukannya untuk diri kita sendiri.

So, Mari bercinta... :)

Blessed with this post. Nice article :)

ezra said...

@silly
haha.. mari bercinta..
saya nyerah deh kalo bicara tentang cinta sama silly. mommy always knows better :)
anyways, i think i'm gonna stick with "gatal yang enak digaruk". hehe..

Marshmallow said...

keren banget deh, ezra.
aku baca dari awal sampai akhir, malah jadi bingung mengenai definisiku sendiri mengenai cinta.
betul, cinta memang harus dirasakan sendiri, baru bisa menumbuhkan empati.
hmm... analogi cinta sebagai gatal dan enak digaruk? how about itchy and pain share the same receptor, only one contributes lighter sensation than the other? makanya jatuh cinta hanya berjarak setipis benang dari patah hati, due to any reason, i mean anything at all.

ezra said...

kalo gatalnya digaruknya keras2 nanti lama2 jg jadi sakit. :)
just try to keep it from becoming an overused word

.putt. said...

this post brings me to a confusion of what love is..*sigh*

but I totally agree with your term, gatal yang enak digaruk..
pantesan yah klo ada org yg lg suka sm org laen, suka dibilang..gatel yah, sini digarukin.. *halah, maaf jayus*

salam kenal :)

ps: maaf ya komen yg sblmnya saya apus, abisan td ada yg ngomongnya belepotan..hehehe

lolita in pijama said...

cinta adalah memaafkan saat ia menyakiti.
cinta adalah tersenyum saat ia memaki.
cinta adalah menanti saat ia berpaling.
cinta adalah bersabar ketika ingin ia memeluk.
cinta adalah mendoakan saat ia tak peduli.
cinta adalah berani melepaskan saat dia pergi...

ezra said...

putt:
jgn trlalu dipikirin, mana sih yg gatel? hehe..

lolita:
i'll try, jess..

Anonymous said...

but dude, i thought u mightve chosen incubus for de 'luv hurts'!!

damn,

lets make a muvie again,

chindy tan said...

"nggak apa-apa" .....
...suara cinta yang bikin ati 'mak nyuus' ayem,
...payung cinta yang setia memberi ruang baru untuk bercermin dan berbenah diri
...tidak membuat diri merasa takut salah melainkan mengingatkan diri untuk lebih cermat dan hati-hati...