Wednesday, 4 February 2009

Surat untuk Vashtia

Kaukirimkan padaku sepucuk surat. Kau katakan bahwa kau putus asa, tak tahu siapa yang bisa dipercaya, dan hilang harapan. Kau juga mempertanyakan keberadaan Tuhan karena Ia tidak kunjung menjawab panggilanmu. Kau dilanda kebingungan yang sangat tentang makna hidup ini dan arti keberadaanmu didalamnya. Kau bahkan sempat berpikir untuk berhenti. Berhenti berpikir, berhenti merasa. Pokoknya berhenti, begitu katamu.


Tia, ketahuilah bahwa semua orang pasti pernah melalui saat-saat itu. Namun reaksi mereka tidaklah selalu sama. Sebagian orang tidak peduli, sebagian lagi menyangkal, dan sebagian lainnya mandek tidak mau berjalan lagi. Semua ekspresi itu berujung pada kehilangan diri mereka sendiri. Tetapi aku ingin kau tahu, Tia, cukup banyak pula orang yang mau berdamai dengan dirinya dan terus berjalan.

Kau benar, Tia, dunia ini dingin. Segalanya memang tidak lagi sehangat seperti ketika kau berada di pangkuan bunda. Hidup berubah rupa dari segelas susu coklat manis, topi lucu, dan boneka-boneka menjadi kamar gelap dan dering yang bising.Setiap hari kau bertemu dengan teman yang palsu, tetangga pendengki, dan anjing yang galak. Kau juga tidak jarang mengalami kejatuhan ataupun kebangkrutan. Gagal dalam ujian ataupun kekasih yang berkhianat pun mungkin terjadi padamu. Hal-hal buruk memang bisa terjadi, Tia.

Sering kali kau merasa menjadi korban dari persekongkolan jahat rahasia yang mempunyai misi untuk menghancurkanmu dan membuatmu menderita. Namun bukankah penderitaan lekat dengan kita? Kelahiran adalah penderitaan, tumbuh berkembang pun penderitaan sebagaimana kuncup menderita kala menjadi bunga. Penderitaan adalah takdir.

Karena aku telah bicara tantang takdir, kau mungkin akan bertanya apa yang harus kau lakukan untuk menjalani takdir; untuk mengatasi derita. Jawabanku adalah aku tidak tahu, Tia. Dan mereka yang sering menyebut dirinya pakar yang mengetahui segala hal pun tidak tahu. Mereka hanya pelawak dungu yang mengarang kiat-kiat untuk mengatasi masalah. Aku sarankan padamu untuk tidak menelan bulat-bulat apapun yang mereka katakan. Karena kita bukanlah alat yang sama; bukan pribadi yang serupa dan sebangun. Dirimu adalah keunikan, Tia. Hanya satu dari sekian banyak kepribadian. Cuma kau yang mengetahui bagian mana dari dirimu yang kuat. Maka hanya dirimu yang bisa menjawab pertanyaan itu.

Semua ini hanyalah suatu tahapan. Saat ini kau terpilih untuk mengambil satu langkah untuk menjadi diri sendiri dalam mengarungi derita; untuk memulihkan diri dari kekecewaan dalam helaan napas dan detak jantung yang hampir hilang; untuk menghirup udara dan menatap bintang; untuk tumbuh dari kanak-kanak menjadi dewasa. Maka belajarlah untuk mendengar manakala kehidupan berbicara. Mulailah untuk mengingat kembali apa yang membuatmu bergairah; yang memberikan kehangatan di pagi hari; yang menggerakkanmu.

Dan mengenai Tuhan, cobalah untuk menengok-Nya di dalam diri. Mungkin Ia yang berbicara padamu melalui seekor kumbang di relung terdalammu. Mungkin kau tidak mengenali lagi suaranya. Itu karena selama ini orang-orang telah memasukkan banyak lebah ke dalam telingamu. Maka simaklah suara kumbang itu. Amati juga apa yang terjadi ketika ia menghening. Ikutilah perkataannya bahkan jika ia menuntunmu ke dalam kesendirian dan takdir yang kelam. Karena keberuntungan bersama mereka yang kuat dan berani.

Ketahuilah, Tia, bahwa tidak ada hidup yang lebih terhormat. Yang ada adalah hidupmu ini; satu-satunya hidup yang harus kaulalui. Dan bila kau berhasil mengatasinya, kehormatan adalah milikmu. Karena tidak sedikit orang yang lari dari sakit dan bahkan ingin untuk tidak pernah dilahirkan. Mereka ini yang menganggap bahwa mengakhiri hidup adalah suatu pilihan. Tia, banyak orang berpikir bahwa maut lebih memikat, mereka berani mati. Tetapi apakah mereka juga berani hidup?

Tia, bangunlah dari tempat tidurmu. Pergilah mandi. Buatkan secangkir caffe latte untuk dirimu sendiri. Ada yang harus dirayakan hari ini.

5 comments:

Babisuper said...

komen gw cuma satu.

Blog lo harus gw tag.

hahahaha..ijin ya bos.

Anonymous said...

ezra, bagus tulisan-nya.

surprisingly, hal ini juga terjadi sama temen deket gw dikampus, padahal dia kuliah di jurusan psikologi (yang menurut pemikiran temen2 gw yang lain, mestinya harus bisa lebih mengerti dan menemukan solusi yang terbaik buat dirinya sendiri *secara dia akan berurusan dan harus membantu orang lain yang bermasalah).

nik.e said...

wow!
suka juga yang iniii
jujur.apa adanya, tapi bermakna
saya suka bagian ini :

"Maka belajarlah untuk mendengar manakala kehidupan berbicara. Mulailah untuk mengingat kembali apa yang membuatmu bergairah; yang memberikan kehangatan di pagi hari; yang menggerakkanmu."

Chindy Tan said...

Kepompong, ketika menapak ujung lorong metamorfosa tidak memiliki pilihan selain menggeliat maju, meski dalam keadaan ekstra minim air dan makanan. Fokusnya hanya pada gerak maju, sesempit apa pun lorong yang harus dilaluinya.
Ezra, terima kasih atas sentuhan katanya. Tulisan yang sungguh hidup, menyentak hati 'ngeh' akan keberadaan lamat-lamat cahaya yang berpendar di seluruh sudut ranah nan sakral di nurani.

salam kenal,
Chindy Tan

ps. ijin pajang alamat blog Ezra nang omahku njeeh,
suwuuun

ezrasatya mayo said...

nike:
tengkyu, nik.
cuma brusaha menyambung kembali apa yg sdh terputus

chindy:
the choice is to live or die trying. masih banyak hal dlm hidup ini.
salam kenal jg, mbak.
monggo lho kalo mau nge-link. jgn isin-isin. :)