Sunday, 9 November 2008

Ruang Tunggu

Ketika masih balita, saya tak sabar menunggu saatnya masuk TK. Saya ingin segera tahu abjad dan angka. Ketika di TK, SD menarik bagi saya. Menurut teman-teman yang lebih tua, di SD diajar membaca, menulis, dan berhitung. Saya ingin segera tiba waktunya saya lulus dari TK agar saya lekas belajar di SD --walaupun di SD juga ada upacara bendera dan jadwal piket yang kadang merepotkan. Demikian pula ketika di SD saya menunggu masuk SMP, masa SMP menunggu masa SMA, dan begitu seterusnya. Saya selalu menunggu waktunya tiba.

Saat masih bayi, saya yakin saya ingin cepat dapat berjalan agar saya bisa berlari, main bola, dan naik sepeda. Ketika saya anak-anak, saya menunggu masa remaja tiba. Bagi saya, masa remaja berarti punya teman sekelompok, bersenang-senang, dan mulai suka lawan jenis. Dan setelah masa remaja benar-benar datang, saya menunggu masa dewasa. Kedewasaan menyiratkan pengalaman, wewenang, dan kekuasaan untuk memutuskan. Walaupun masa dewasa juga berarti lebih menghargai dan bertanggungjawab. Setelah masa-masa tersebut terlampaui, saya baru menyadari bahwa selama ini saya selalu menunggu. Dan hanya itu yang saya lakukan.

Sejauh yang saya dapat ingat, saya terlalu kerap menunggu. Saya merasa sangat sering kehilangan kendali atas hidup saya. Bahkan pilihan tempat saya bersekolah pun saya serahkan pada orang lain. Selebihnya, saya serahkan hidup saya pada putaran nasib. Bila ada dua apel yang kembar identik di atas meja, saya cenderung menunggu salah satu apel tersebut jatuh --oleh kekuatan alam ataupun melalui tangan nasib-- dan jadi kotor hingga akhirnya saya dapat pilih yang tetap ada di atas meja.

Kisah hidup saya banyak diisi oleh sikap menunggu. Namun saya jarang mengetahui apa yang saya tunggu dan mengapa saya menunggu. Bahkan lebih jarang lagi saya mengetahui bahwa saya sia-sia menunggu. Selain itu, kadang "panggilan" --suatu peristiwa kebetulan yang ganjil yang memberikan "izin" bagi saya untuk bergerak-- datangnya terlambat, saat kekuatan dan kegigihan dalam melaksanakan tindakan tersebut sudah kempis akibat digunakan untuk menunggu terlalu lama.

Paulo Coelho pernah mengatakan bahwa hidup adalah soal menunggu saat yang tepat untuk bergerak. Lalu bagaimana saya tahu saat yang tepat? Saya menganggap diri saya tidak cukup peka dan tidak dapat membaca pertanda. Namun, bukankah hidup adalah tentang perjalanan? Manusia akan berkembang dengan sendirinya seiring perjalanan dia menapaki jalurnya. Seseorang yang berdiam, menunggu dirinya berkembang sebelum membuat keputusan, maka ia tidak akan bergerak.

Saya punya apa yang Coelho sebut "legenda pribadi". Saya cukup yakin saya akan dapat mencapainya. Saat itu saya akan bergerak, memulai perjalanan. Tidak terlalu penting apa yang akan diperoleh nanti. Lebih penting bersikap berani.

Saat saya melihat sekitar, saya sadar ternyata saya tidak sendiri. Ruang tunggu ini penuh oleh manusia yang menanti.

No comments: