Monday, 15 December 2008

Korban

Tuhan mewujud di dalam mimpinya malam hari. Pasti bukan tentang hal biasa karena Ia datang tiga kali berturut-turut. Tentu bukan perkara remeh karena Tuhan ingin dia, hamba-Nya yang setia, membawa anak yang paling dicintainya --yang kehadirannya di dunia dinanti terlalu lama-- ke Gunung Moriah, untuk disembelih. Maka bergegas ia, ibrahim --yang darinya diwariskan tiga agama besar dunia-- ke puncak gunung bersama putra tercinta karena Tuhan tak hendak menunggu.

Dan dibaringkanlah sang putra, pelipis menempel di tanah. Sang bapa tak ingin galau karena Tuhan telah bertitah. Ibrahim pun siapkan pisau. Ia sadar ia harus tunaikan tugas. Namun sejurus sebelum kulit sang putra terluka oleh irisan pertama, ia telah dijelmakan jadi seekor domba. Sebagian orang mengira pada saat itu sang bapa telah lulus uji. Imannya benar lempeng, lurus, tidak bengkok.

Pengorbanan manusia juga dikenal di peradaban Aztec kuno. Masyarakat Aztec percaya bahwa hidup mereka ada dalam daur 52 tahun. Karena itu, tiap hari terakhir pada tahun ke-52, mereka harus mengadakan Upacara Api Baru. Pada tengah malam mereka matikan api dan persembahkan seorang manusia agar Tuhan tidak murka. Bila Tuhan berkenan atas daging dan darah di altar persembahan, Ia akan menunda kiamat dan orang-orang bisa hidup 52 tahun lagi. Maka perayaan dimulai saat subuh. Api disulut di atas jasad korban untuk kemudian dibagi nyalanya ke tiap rumah dan penjuru kota.

Pengorbanan berarti "memberi". Namun ia bukanlah kontrak yang menyiratkan balasan kelak atas suatu pemberian. Derrida mengatakan bahwa bila waktu amat penting dan menentukan, pemberian akan jadi sesuatu yang ”mustahil”. Yang terjadi adalah pertukaran antara jasa dan jasa atau jasa dan benda. Bila itu berkaitan dengan Tuhan, apakah berarti kita dapat membeli tiket ke surga?

Orhan Pamuk selalu menganggap bahwa Tuhan hanya peduli pada orang miskin. Baginya, Tuhan selalu bersama kaum tersisih, tertindas, dan terpinggirkan. Tuhan adalah tuhan bagi mulut-mulut sedih yang papa yang selalu mengucap doa. Namun, ketika saya melihat antrian panjang kaum dhuafa yang memohon sekerat daging di halaman tempat ibadah dan rumah 
orang-orang berada pada saat Idul Adha tiba, saya jadi meragukan pemikiran tersebut. Ataukah saya tidak melihat dengan benar?

Tuhan berfirman bahwa bukan daging atau darah ternak korban yang akan sampai pada-Nya, melainkan ketaqwaan kita. Lakukanlah korban karena itu baik bagimu, demikian Tuhan berucap. Jadi sebarkanlah manfaat bagi yang membutuhkan. Langit tidak butuh korban dari kita, bumi lebih butuh. Tidak ada proses pertukaran dalam peristiwa korban. Bila muncul pemikiran bahwa banyaknya korban yang kita persembahkan berbanding lurus dengan imbalan rezeki yang akan Tuhan beri, maka motivasi berkorban perlu ditinjau ulang. Luruskan niat karena ini bukan soal "saya akan menggaruk punggung anda jika anda menggaruk punggung saya".

Ibrahim memberi pelajaran tentang sabar melalui peristiwa korban. Selain itu, terdapat pesan tentang ikhlas. Tuhan tidak menjanjikan apapun pada Ibrahim ketika Ia menurunkan perintah. Ibrahim pun tak mengharapkan imbalan kelak akan datang. Maka dengan demikian ia terbebas dari loba, tamak, dan rakus. Baginya, ia bahagia karena ia merasa cukup.

No comments: