Thursday, 22 January 2009

Merah (tidak selalu) berarti Berhenti


Peristiwa ini terjadi sudah cukup lama. Namun cerita seorang teman membawa ingatan tentangnya kembali. Saya ingat waktu itu saya mempercepat laju kendaraan saya karena count-down timer di atas sebuah lampu lalu lintas menunjukkan tinggal 5 detik lagi sebelum lampu berubah dari hijau jadi merah. Saya merasa saya tidak akan dapat berhasil melewati lampu tersebut sebelum waktunya tiba. Tetapi saya ingat saya berpikir bahwa terlambat satu atau dua detik takkan jadi soal karena lalu lintas dari arah lain juga belum akan mulai bergerak. 


Saat itu, tidak jauh di depan kendaraan saya ada kendaraan lain. Saya kira kendaraan itu juga akan sedikit terlambat bila ia memutuskan untuk menerobos lampu merah. Namun perkiraan saya salah. Pada detik terakhir, ia memilih untuk berhenti. Pada detik yang sama, saya yang telanjur melaju cepat terpaksa membanting kemudi ke kiri untuk menghindari tumbukan. Akhirnya, kendaraan saya berhenti di sisi kiri kendaraan tersebut, di bawah lampu lalu lintas yang menyala merah, dan saya jadi kesal.

Setelah lama berselang dan saya sudah cukup tenang, saya mencoba mengenali kekesalan saya tersebut. Mengapa saya kesal padahal saya tidak sedang terburu-buru? Saat itu cuaca cerah dan tidak panas. Suasana hati saya juga sedang bagus. Tetapi mengapa mobil tersebut tidak menerobos lampu merah seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang --dan tidak jarang termasuk saya? Saya pun tiba pada kesimpulan bahwa saya marah karena pengendara mobil tersebut taat pada peraturan.

Richard Dawkins, seorang pakar biologi, dalam bukunya The God Delusion, yang mengutip satu kalimat pengarang lain mengatakan, ”Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama". Dengan kata lain, bila dilakukan oleh satu orang, itu disebut "kesalahan". Sedangkan bila banyak orang yang melakukannya, itu disebut "budaya". Jadi bila perilaku salah seperti membuang sampah tidak pada tempatnya dilakukan secara berjamaah, hal itu bukanlah jadi masalah, karena hal itu merupakan sesuatu yang secara umum dapat diterima.

Di beberapa daerah saat ini telah ada Peraturan Daerah yang melarang seseorang merokok di dalam ruang publik. Namun berdasarkan pengamatan saya, Peraturan Daerah itu tidak berjalan efektif. Masih banyak didapati di beberapa tempat umum seorang perokok dapat leluasa menghisap rokoknya tanpa peduli pada orang-orang di sekitarnya.

Bagi saya, merokok --apapun motivasinya-- adalah pilihan si perokok. Saya tidak hendak melarang merokok karena saya anggap para perokok sudah dewasa, sudah paham konsekuensinya. Namun, bila si perokok menghisap rokoknya di dalam ruang publik, ia sudah merampas hak-hak orang lain untuk bernapas dengan lega.

Sering saya dapati, seberapapun terganggunya orang-orang di sekitarnya, si perokok tetap tidak acuh. Baginya merokok adalah kebebasan penuh. Tidak ada keinginan dari hatinya untuk memikirkan kenyamanan orang lain. Namun tidak ada juga usaha dari orang-orang di sekitarnya --yang merasa terusik-- untuk membuatnya menyadari bahwa tindakannya telah menindas kebebasan orang lain. Pada akhirnya, si perokok akan tersenyum karena ia menganggap bahwa orang-orang sekelilingnya dapat menerima kehadirannya --beserta asap rokoknya.

Ada saat tertentu ketika pendapat yang disuarakan orang banyak dapat menjadi kekuatan yang hebat untuk menjaga, memelihara, dan merawat segala kebaikan yang tumbuh dalam diri manusia. Namun, kadang di suatu ketika, tenaga itu bisa hilang arah.  

  

5 comments:

raeArani said...

selalu soal jumlah...

demokrasi ala kotak suara udah gagal...

ezra said...

yah.. begitulah kalo hidup di negara mayorokrasi (demokrasi mayoritas). istilah saya sndiri. :)

GICM Aficionado said...

Wah Baca God Delusion. Hebat nih bacaannya. Kelas Berat.... Baca juga Jesus for Atheist. Pengarang sama.
Well agama tidak sempurna, tapi masih diperlukan bagi peradabaan manusia.
Karena manusia pun tak sempurna.
Well agama memang sempit.
Tapi pikiran manusia juga sempit. Dan masih belum segitu 'cerah'-nya (merujuk renaissance) peradaban manusia itu. Sehingga bisa lepas dari perlunya agama.
Seperti segala hal. Agama bisa bersifat destruktif, atau konstuktif. Ini hukum alam. Bukan salah agamanya. Tur Manusianya.
Sayangnya filusuf atheis, seperti Nietze (dan banyak yang lain) pun tidak memberikan teladan yang baik. Rata rata mereka meninggal karena penyakin kelamin.
Intinya sih moral n self control ya, sebelumnya manusia menghancurkan dirinya sendiri.
Yah, biarlah kita lihat bersama kearah mana semua ini berujung.

ezra said...

iya, karena agama sampai ke tangan manusia melalui teks yg penafsirannya bisa beda".
menurut saya yg lebih penting sih spiritualitas dasar, seperti compassion, keramahan, kepedulian, dll. tdk akan ajaran agama melanggar spiritualitas dasar.
hehe.. saya speed-reading kok baca god delusion-nya. blm baca jesus for atheis jg. :)

NSB said...

Hehe, setuju soal yang perokok. :)